Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memastikan kesiapan mitigasi kebakaran hutan dan lahan di kawasan konservasi melalui penguatan sistem pemantauan, pos pantau, dan tim gabungan lintas instansi. Penanganan di lapangan didukung mobil slip on, operasi modifikasi cuaca, dan helikopter water bombing untuk memadamkan api sekaligus melindungi satwa liar. Salah satu kawasan yang menjadi perhatian pemerintah adalah Taman Nasional Way Kambas di Lampung yang tengah berproses menjadi badan layanan umum.
SURAKARTA — Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa upaya memadamkan api bukan satu-satunya prioritas dalam penanganan karhutla di kawasan konservasi. Perlindungan satwa liar dinilai sama pentingnya karena kawasan tersebut menyimpan kekayaan hayati yang luar biasa.
"Berjuang memadamkan api itu penting, tapi tak kalah penting adalah memproteksi satwa liar kita yang merupakan kekayaan yang luar biasa yang harus kita proteksi secara bersama-sama," kata Menhut dalam keterangannya yang diterima di Surakarta, Jawa Tengah, Senin.
SiPongi hingga Pos Pantau Jadi Tulang Punggung Mitigasi Aktif
Mitigasi aktif dijalankan melalui Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi). Pemerintah juga membangun pos pantau karhutla di sejumlah titik rawan serta membentuk tim gabungan bersama lintas instansi.
Untuk penanganan di lapangan, Kementerian Kehutanan mengerahkan mobil slip on. Operasi modifikasi cuaca (OMC) dan helikopter water bombing turut diperkuat sebagai bagian dari strategi berlapis.
"Penanganan karhutla di kawasan konservasi tidak hanya mengandalkan satu metode, tetapi dilakukan melalui pemadaman darat, dukungan water bombing, dan OMC," kata Menhut Raja Antoni.
Mengapa Kawasan Konservasi Jadi Prioritas Perlindungan
Kawasan konservasi menyimpan keanekaragaman hayati yang tidak bisa digantikan. Karena itu, penguatan perlindungan dinilai penting untuk menjaga ekosistem di dalamnya tetap utuh.
"Penguatan perlindungan kawasan konservasi penting karena kawasan tersebut memiliki keanekaragaman hayati yang harus dijaga," ujarnya menambahkan.
Taman Nasional Way Kambas dan Proses Menuju Badan Layanan Umum
Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung menjadi salah satu kawasan konservasi yang mendapat perhatian pemerintah. Saat menerima kunjungan Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Kaja Gloom beberapa waktu lalu, Menhut menyampaikan bahwa TNWK sedang berproses menjadi badan layanan umum (BLU).
Proses tersebut menjadi bagian dari penguatan tata kelola dan pembiayaan taman nasional. Menurut Menhut, langkah itu masuk dalam upaya pengembangan skema pengelolaan taman nasional melalui Satgas Pembiayaan Taman Nasional.
"Proses tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan skema pengelolaan taman nasional melalui Satgas Pembiayaan Taman Nasional," ujarnya.
17 Manggala Agni dan 44 Polisi Kehutanan Siaga di Way Kambas
Kesiapan personel mitigasi karhutla di TN Way Kambas didukung 17 anggota Manggala Agni dan 44 polisi kehutanan. Sarana yang disiagakan meliputi tujuh kendaraan roda empat, 33 kendaraan roda dua dan tiga, delapan set mesin pompa beserta kelengkapannya, 60 jetshooter, serta dua tenda.
"Pengecekan sarana dan prasarana bersama Dubes Norwegia ini menjadi bagian dari upaya memastikan kesiapan mitigasi dan perlindungan kawasan konservasi dari ancaman karhutla," kata Menhut.