KENDARI — Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Kendari Abdul Rauf menyatakan lonjakan harga cabai dipicu menurunnya stok pasokan akibat faktor cuaca. Penanaman skala rumah tangga, menurut dia, terbukti tetap bisa tumbuh subur asalkan perawatan dan ketersediaan air mencukupi.
Pemerintah kota menempuh jalur pekarangan dan teras rumah untuk meredam tekanan harga pangan yang rutin memicu inflasi daerah. Warga diajak menanam sendiri kebutuhan dapur, terutama cabai dan sayuran.
Mengapa Harga Cabai di Kendari Bisa Naik Dua Kali Lipat
Kenaikan dari Rp 40 ribu ke Rp 80 ribu per kilogram terjadi karena pasokan di pasar berkurang. Faktor cuaca menjadi penyebab utama turunnya produksi di sentra-sentra tanam.
Abdul Rauf menegaskan pola kenaikan komoditas pangan seperti cabai berulang setiap tahun dan selalu berdampak pada inflasi. Karena itu, pendekatan yang dipilih bukan sekadar operasi pasar atau gerakan pangan murah.
“Setiap tahun kenaikan harga komoditas pangan seperti cabai ini selalu memengaruhi inflasi. Melalui optimalisasi Teras B2SA, kami menginginkan setiap keluarga memiliki tanaman di sekitar rumahnya. Kalau setiap rumah tangga menanam cabai, ketahanan pangan keluarga akan lebih kuat,” ujar Abdul Rauf.
800 Bibit Cabai Siap Panen untuk Warga Desil 1 hingga Desil 5
Dinas Ketapang Kota Kendari telah menyalurkan sekitar 800 tanaman cabai siap panen. Penerima difokuskan pada rumah tangga Kategori Desil 1 sampai Desil 5.
Bantuan tidak berhenti pada pembagian bibit. Penyuluh pertanian diterjunkan untuk mendampingi warga agar tanaman terawat dan kesadaran mandiri tumbuh di tingkat rumah tangga.
Program Rumah Pangan B2SA yang digaungkan pemerintah kota mencakup empat prinsip: Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman. Pendekatan ini menempatkan pekarangan sebagai sumber pangan harian, bukan sekadar penghias rumah.
Bukan Cuma Cabai, Ini Cakupan Lain Program Pekarangan
Selain cabai dan sayuran, optimalisasi pekarangan rumah mencakup bidang pangan lain seperti peternakan skala kecil hingga hidroponik. Warga diberi ruang memilih jenis usaha tani yang sesuai kondisi rumah masing-masing.
Abdul Rauf menyebut program ini menyasar literasi keuangan keluarga, bukan hanya ketahanan pangan. Jika kebutuhan dasar seperti cabai dan sayuran bisa dipenuhi dari pekarangan sendiri, pengeluaran rumah tangga dinilai jauh lebih efisien.
“Program ini bukan sekadar bantuan atau gerakan pangan murah yang sifatnya sementara, tetapi membangun literasi keuangan dan kemandirian pangan keluarga. Jika kebutuhan dasar seperti cabai dan sayuran bisa dipenuhi dari pekarangan sendiri, pengeluaran rumah tangga akan jauh lebih tertekan dan efisien,” pungkas Abdul Rauf.
Dinas Ketapang Kota Kendari akan terus melibatkan penyuluh pertanian untuk memastikan tanaman yang dibagikan tidak berhenti tumbuh setelah serah terima. Pendampingan menyasar warga penerima manfaat di sejumlah kelurahan.