KENDARI — Kepala Kanwil Kemenag Sulawesi Tenggara H. Mansur, S.Pd., M.A. memilih merawat harmoni sebagai fondasi kepemimpinannya selama satu tahun terakhir. Buku "Menjaga Harmoni, Menggerakkan Transformasi, Catatan Perjalanan Satu Tahun Kepemimpinan Kerja Bersama, Ikhtiar Cepat Mengimplementasi Asta Protas Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara" menjadi rekam jejak sekaligus pertanggungjawaban publik atas amanah yang diembannya.
Sejak menerima jabatan pada 12 November 2025, Mansur menempatkan empat pilar sebagai landasan kerja: penguatan pelayanan publik, kerukunan umat beragama, peningkatan mutu pendidikan, dan transformasi tata kelola. Empat pilar itu diterjemahkan dari Asta Protas Kemenag Berdampak ke dalam agenda operasional di 17 kabupaten/kota se-Sultra.
Dari Ruang Kelas MAN 1 Baubau Menuju Kursi Kepala Kanwil
Perjalanan Mansur tidak dimulai dari meja birokrasi. Pada 1997, ia mengajar fisika di MAN 1 Baubau, mengenal denyut pendidikan dari ruang kelas, memahami persoalan guru, dan berinteraksi langsung dengan peserta didik.
Kepercayaan demi kepercayaan mengantarnya menempati sejumlah posisi strategis. Pengalaman lapangan itu menjadi modal sosial yang membedakannya dari pemimpin yang datang semata-membawa kewenangan birokrasi.
Pendekatan yang dikembangkannya memiliki kedekatan dengan konsep servant leadership yang diperkenalkan Robert K. Greenleaf. Gagasan itu menempatkan pelayanan sebagai inti kepemimpinan, bukan kekuasaan.
Delapan Agenda Asta Protas yang Harus Berdampak Nyata
Mansur mendorong delapan program prioritas Kemenag Berdampak agar tidak berhenti sebagai dokumen perencanaan. Kedelapan agenda itu meliputi:
- Peningkatan kerukunan dan cinta kemanusiaan
- Penguatan ekoteologi
- Layanan keagamaan berdampak
- Pendidikan unggul, ramah, dan terintegrasi
- Pemberdayaan pesantren
- Pemberdayaan ekonomi umat
- Pemberdayaan rumah ibadah
- Digitalisasi tata kelola
Tantangan sesungguhnya, menurut Mansur, adalah memastikan setiap program memiliki keluaran dan manfaat yang dirasakan masyarakat. Bukan sekadar slogan birokrasi.
Karena itu ia mendorong keterlibatan seluruh jajaran Kemenag, pemerintah daerah, tokoh agama, lembaga masyarakat, dan akademisi. Pembangunan kehidupan keagamaan tidak mungkin dikerjakan satu institusi secara sendirian.
Kerukunan Tidak Cukup Dibangun Lewat Seremoni
Kerukunan butuh dialog, kepercayaan sosial, komunikasi lintas agama, dan kesediaan merawat perbedaan. Mansur menempatkan pendekatan itu sebagai kerja panjang, bukan acara seremonial sesaat.
Hal serupa berlaku pada pemberdayaan ekonomi umat yang memerlukan sinergi antara lembaga keagamaan, dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat. Dalam perspektif modal sosial Robert Putnam, kepercayaan, jejaring, dan norma kerja sama menjadi kekuatan penting yang memungkinkan masyarakat bergerak mencapai tujuan bersama.
Kolaborasi yang dibangun Mansur menjadi prasyarat bagi keberhasilan transformasi kelembagaan di lingkungan Kanwil Kemenag Sultra. Buku catatan perjalanan itu menjadi dokumentasi atas proses tersebut, sekaligus undangan bagi jajaran dan masyarakat untuk menilai capaian setahun pertama.