JAKARTA — Jumlah investor aset kripto di Indonesia kini mencapai 22,69 juta orang per Juni 2026, melonjak dari 20,19 juta orang pada Desember 2025. Pertumbuhan ini terjadi di tengah pelemahan nilai transaksi yang signifikan, mengindikasikan pergeseran perilaku investor dari nilai besar menjadi frekuensi kecil.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai tambahan investor ini membuktikan pasar kripto domestik tetap diminati. Namun, tekanan ekonomi membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam mengalokasikan dana.
“Basis investor tetap tumbuh meski nilai transaksinya turun. Ini menunjukkan masyarakat masih masuk ke pasar kripto, hanya saja dengan nilai transaksi yang lebih kecil karena tekanan daya beli,” ujar Yudho dalam keterangan resminya, Selasa (15/7/2026).
Pelemahan transaksi tidak hanya terjadi di dalam negeri. Kapitalisasi pasar kripto global sempat terkoreksi sekitar 45%, dari US$4,2 triliun pada Oktober 2025 menjadi US$2,3 triliun pada Maret 2026.
Kombinasi tekanan domestik dan pelemahan global ini membuat peringkat adopsi kripto Indonesia turun dari posisi ketiga menjadi ketujuh berdasarkan laporan Chainalysis. Meski begitu, jumlah kelompok calon kelas menengah (aspiring middle class) justru naik dari 137,5 juta orang pada 2024 menjadi 142 juta orang pada 2025, atau sekitar 50,4% dari total penduduk.
“Kripto bukan kebutuhan primer. Ketika kondisi ekonomi rumah tangga tertekan, masyarakat secara alami akan menjadi lebih konservatif dalam berinvestasi,” katanya.
Minat pelaku industri terhadap pasar Indonesia tidak surut. Hingga pertengahan 2026, OJK telah memberikan izin kepada 32 entitas dalam ekosistem perdagangan aset kripto dengan lebih dari 1.200 aset legal yang diperdagangkan.
Masuknya pemain global ke Indonesia menandakan pasar domestik masih dinilai prospektif. Kondisi ini memaksa perusahaan kripto mengubah strategi, tidak lagi fokus pada akuisisi pengguna, tetapi memperdalam transaksi dan menghadirkan produk sesuai karakter investor baru.
Salah satu peluang yang tengah dilirik adalah produk tokenized stocks. Volume perdagangan instrumen ini secara global melonjak tajam dari US$831 juta pada Juli 2025 menjadi US$54 miliar pada Juni 2026.
Produk ini memberi eksposur terhadap saham perusahaan global seperti Tesla atau Nvidia, sehingga menarik bagi investor yang menginginkan instrumen berbeda dari aset kripto murni. Sementara itu, pasar derivatif atau futures juga masih memiliki ruang tumbuh besar.
Volume perdagangan derivatif kripto global pada kuartal II/2026 mencapai US$12,7 triliun, jauh di atas volume spot sebesar US$1,95 triliun. Namun, kontribusi derivatif terhadap transaksi kripto nasional baru sekitar 22%.
“Strategi yang relevan adalah mengombinasikan tokenized stocks untuk menjangkau investor yang lebih konservatif dan produk derivatif untuk menangkap pertumbuhan aktivitas trader,” jelas Yudho.
Yudho menekankan bahwa bertambahnya calon kelas menengah menjadi peluang jangka panjang bagi industri. Namun, pertumbuhan jumlah investor harus dibarengi peningkatan literasi keuangan agar masyarakat memahami risiko investasi.
“Pertumbuhan jumlah investor jangan hanya berhenti pada angka partisipasi. Yang lebih penting adalah memastikan masyarakat memahami risiko dan mampu mengambil keputusan investasi secara lebih matang,” tuturnya.
Ia optimistis prospek industri kripto Indonesia masih terbuka lebar. Tantangan utama kini ada pada kemampuan industri menyesuaikan produk, memperluas edukasi, dan membangun kepercayaan investor untuk jangka panjang.