Pencarian

Studi Lukisan Cadas Huashan Ungkap Teknologi Cat Kuno: Campuran Darah Manusia dan Mortar Tulang

Senin, 17 Agustus 2026 • 13:42:01 WIB
Studi Lukisan Cadas Huashan Ungkap Teknologi Cat Kuno: Campuran Darah Manusia dan Mortar Tulang
Studi pada lukisan cadas di Lembah Sungai Zuojiang, China, mengungkap campuran darah manusia dan mortar tulang sebagai perekat pigmen merah.

SULAWESI TENGGARA — Lukisan cadas di Lembah Sungai Zuojiang, China, bukan sekadar peninggalan budaya. Sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Archaeological Science membedah komposisi materialnya dan menemukan bahwa seniman kebudayaan Luoyue (2.600–1.900 tahun lalu) menggunakan teknologi perekat yang kompleks. Campuran darah manusia, tulang hewan, dan kotoran burung menjadi kunci daya tahan pigmen merah di tebing batu kapur yang terbuka.

Komposisi Perekat: Darah Manusia dan Mortar Kalsium

Peneliti menemukan lapisan dasar lukisan terbuat dari campuran yang dipanaskan: tulang hewan, kotoran burung, batu kapur, dan cangkang. Proses ini menghasilkan material mengandung kalsium fosfat dan kapur tohor. Setelah itu, air dan darah ditambahkan untuk membentuk mortar cair sebelum pigmen merah dari tanah liat kaya oksida besi diaplikasikan di atasnya.

Analisis protein menunjukkan dua sampel mortar mengandung 97–99% darah manusia dan 1–3% darah herbivora. Sampel lain mencatat komposisi 61% darah manusia dan 39% darah sapi. Keberadaan protein prolactin-inducible protein dan lactotransferrin—yang meningkat drastis pada perempuan hamil tua atau menyusui—mengarahkan dugaan pada darah perempuan pasca-persalinan.

Mekanisme Biomineralisasi: Kunci Ketahanan Ribuan Tahun

Protein darah memicu proses biomineralisasi pada kalsium karbonat dalam mortar. Material pengikat secara kimia menyerupai batu kapur di sekitarnya, membuat partikel pigmen terperangkap dalam struktur kalsium karbonat yang terbentuk. "Sistem ikatan komposit organik-anorganik yang stabil ini mengungkap proses teknologi kompleks yang digunakan para pembuatnya," tulis peneliti dalam studi tersebut.

Ketahanan ini teruji di lapangan. Beberapa sampel harus diambil menggunakan bor listrik karena pigmen menempel sangat kuat. Padahal, kawasan Huashan menghadapi iklim subtropis dengan curah hujan tinggi dan musim hujan monsun selama dua milenium. "Tidak ada bahan pengikat organik alami yang dapat bertahan selama itu dalam kondisi lembap seperti ini," kata para peneliti.

Konteks Budaya: Tema Kesuburan dan Ritual Persalinan

Hipotesis penggunaan darah perempuan pasca-melahirkan diperkuat oleh ikonografi lukisan Huashan. Gambar-gambar di tebing menampilkan perempuan hamil, hubungan seksual, dan alat kelamin laki-laki—tema yang diasosiasikan dengan kultus kesuburan masyarakat Luoyue. Kombinasi jejak protein dan motif visual ini membuat peneliti meyakini darah tersebut berasal dari ritual persalinan, meski mereka menegaskan ini masih dugaan ilmiah, bukan bukti pasti.

Implikasi bagi Penelitian Arkeologi

Temuan ini menggeser asumsi bahwa lukisan cadas bertahan hanya karena kondisi lingkungan. Justru, teknologi pembuatan cat yang canggih memainkan peran utama. Bagi arkeolog dan sejarawan, ini membuka pertanyaan baru tentang tingkat pengetahuan kimia masyarakat prasejarah di Asia Timur—dan apakah teknik serupa digunakan di situs seni cadas lain di kawasan tropis Asia Tenggara.

Follow kabarbaubau.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks