SULAWESI TENGGARA — Peringatan kemerdekaan tahun ini tidak sekadar upacara dan perlombaan panjat pinang di Kilang Kasim. Para perwira dan pekerja justru diajak berkompetisi menyulap barang bekas menjadi karya bernilai guna, mulai dari botol plastik, besi sisa proyek, hingga material operasional yang sudah tidak terpakai.
Area Manager Communication, Relations & CSR RU Kasim, Williamson Amamehi, menegaskan bahwa ajang ini adalah cara perusahaan memperkuat kebiasaan 3R (reduce, reuse, recycle) di lingkungan kerja.
"Melalui kegiatan ini, Kilang Kasim berharap budaya reduce, reuse, and recycle semakin mendarah daging di keseharian pekerja, baik di area perkantoran maupun fasilitas mess perusahaan," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (17/8).
Mengapa Daur Ulang Jadi Tema Lomba 17 Agustus?
Kilang Kasim merupakan objek vital nasional yang memasok energi untuk kawasan timur Indonesia. Di balik operasinya, aktivitas industri menghasilkan limbah anorganik yang jika tidak dikelola akan mencemari lingkungan sekitar pesisir Sorong.
Alih-alih mengirim sampah ke tempat pembuangan akhir, perusahaan memilih memanfaatkannya sebagai bahan baku lomba. Hasilnya, para pekerja ditantang berpikir kreatif: botol bekas menjadi pot tanaman, drum oli menjadi kursi taman, hingga pipa sisa proyek disulap menjadi instalasi seni.
Williamson menambahkan bahwa semangat ini diharapkan melampaui momen perayaan semata. "Event peringatan Kemerdekaan RI tahun ini bukan sekadar perayaan rutin, melainkan momen penting untuk mendorong perilaku insan Kilang Kasim agar terus memperjuangkan nilai-nilai keberlanjutan," jelasnya.
Integrasi ESG di Lingkungan Kerja
Langkah ini sejalan dengan arah kebijakan Pertamina sebagai holding yang tengah gencar menurunkan emisi karbon di seluruh lini bisnisnya. Untuk RU Kasim, pengelolaan limbah berbasis komunitas internal menjadi salah satu cara paling sederhana namun berdampak langsung.
Dengan melibatkan seluruh perwira dalam lomba daur ulang, perusahaan tidak hanya membangun kesadaran lingkungan, tetapi juga menguji kolaborasi antardepartemen. Setiap karya yang dihasilkan nantinya akan dipajang di area publik kilang dan mess karyawan sebagai pengingat bahwa barang bekas masih punya nilai ekonomi.
Partisipasi antusias para pekerja membuktikan bahwa inisiatif hijau tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Sebuah lomba 17-an pun bisa menjadi medium efektif untuk mengubah pola pikir.
"Kami membuktikan bahwa semangat menjaga lingkungan dapat diintegrasikan ke dalam setiap aktivitas kerja dan keseharian. Kami berharap budaya daur ulang ini terus melekat dan menjadi bagian dari komitmen kita bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan di sekitar Kilang Kasim," pungkas Williamson.
Ke depan, perusahaan berencana menjadikan program serupa sebagai agenda rutin, bukan hanya saat hari kemerdekaan. Hal ini sejalan dengan target Pertamina untuk mencapai net zero emission di tahun 2060.