KONAWE — Kekurangan guru di SDN Parubela membuat proses belajar mengajar di kawasan Transmigrasi Parudongka berjalan tidak ideal. Tim 1 Ekspedisi Patriot Lokus Asinua-Routa hadir mengisi celah itu dengan mendampingi siswa di kelas sekaligus mengajak mereka beraktivitas kreatif.
Anggota tim tidak hanya membantu penyampaian materi pelajaran. Mereka juga mendampingi anak-anak dalam kegiatan menggambar yang memberi ruang bagi siswa mengekspresikan ide dan imajinasi.
Respons Guru: Kehadiran Tim Ekspedisi Patriot Sangat Membantu
Guru SDN Parubela, Nasra, menyatakan kehadiran tim ekspedisi meringankan beban tenaga pendidik yang jumlahnya terbatas. Menurut dia, sekolah selama ini kesulitan memenuhi kebutuhan guru untuk seluruh siswa.
"Dari adik-adik Patriot dalam proses belajar dalam kelas karena saat ini kami sangat kekurangan tenaga guru pendidik. Setelah hadirnya Tim Ekspedisi Patriot, alhamdulillah kami bisa terbantu," ujar Nasra di Parudongka, Rabu (28/10/2026).
Keterbatasan guru menjadi persoalan lama di sekolah-sekolah dasar di wilayah transmigrasi Konawe. Rasio guru terhadap siswa yang tidak seimbang membuat perhatian per anak berkurang, terutama saat jam pelajaran berlangsung.
Menggambar Jadi Sarana Siswa Mengekspresikan Diri
Aktivitas menggambar yang digelar tim ekspedisi memberi pengalaman belajar berbeda bagi siswa SDN Parubela. Anak-anak mendapat kesempatan mengeksplorasi potensi diri di luar pelajaran akademik.
Kegiatan itu juga disebut membangun kepercayaan diri siswa. Anak yang biasanya pasif di kelas mendapat ruang untuk menunjukkan hasil karyanya tanpa tekanan penilaian formal.
Pendampingan semacam ini menyasar aspek yang jarang tersentuh ketika sekolah kekurangan tenaga pengajar. Selain materi pelajaran, siswa membutuhkan perhatian personal yang sulit diberikan jika satu guru harus menangani banyak kelas.
Ekspedisi Patriot dan Arahan Pemerintah Pusat
Langkah Tim Ekspedisi Patriot sejalan dengan penekanan Presiden Prabowo Subianto soal pentingnya peran guru sebagai fondasi kemajuan bangsa. Pemerintah menempatkan pendidikan sebagai prioritas yang perlu ditopang dari tingkat sekolah dasar.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, juga menekankan perlunya solusi nyata atas persoalan yang ditemukan Tim Ekspedisi Patriot di lapangan. Temuan soal kekurangan guru di Parudongka menjadi salah satu contoh persoalan yang menuntut penanganan konkret.
Bagi warga Parudongka, kehadiran tim ekspedisi memberi dampak langsung yang terasa di ruang kelas. Namun persoalan mendasar tetap ada: sekolah membutuhkan tambahan tenaga pendidik agar kegiatan belajar berjalan stabil sepanjang tahun ajaran, bukan hanya saat tim pendamping datang.