SULAWESI TENGGARA — Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, mengungkapkan perseroan tidak lagi hanya bergantung pada bisnis pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP). Perusahaan yang merupakan anak usaha PT Pertamina Power Indonesia ini tengah merancang sejumlah lini bisnis anyar yang dinilai punya prospek cerah di masa depan.
Dua sektor yang paling menonjol dalam rencana tersebut adalah produksi hidrogen hijau dan penyediaan listrik bersih untuk pusat data atau green data center. Keduanya dinilai sebagai sumber pertumbuhan bisnis yang menjanjikan seiring meningkatnya kebutuhan energi ramah lingkungan di dalam negeri.
Mengapa PGE Butuh Sumber Pendapatan Baru?
Selama ini, PGE dikenal sebagai pengelola pembangkit listrik panas bumi terbesar di Indonesia. Namun, ketergantungan pada satu lini bisnis dinilai rentan di tengah dinamika pasar energi yang berubah cepat.
Hidrogen hijau menjadi primadona baru karena bisa diproduksi menggunakan listrik dari pembangkit panas bumi. Produk ini nantinya bisa dijual ke sektor industri berat, transportasi, hingga pembangkit listrik yang membutuhkan bahan bakar rendah karbon.
Sementara itu, kebutuhan listrik untuk pusat data tumbuh pesat seiring digitalisasi ekonomi. PGE menawarkan solusi energi bersih yang stabil, sesuatu yang sulit dipenuhi oleh pembangkit energi surya atau angin karena sifatnya yang intermiten.
Potensi Pasar yang Menanti
Pasar hidrogen hijau global memang masih bertumbuh, tetapi permintaan domestik diperkirakan mengikuti tren kebijakan pemerintah yang mendorong penggunaan energi bersih. PGE memiliki keunggulan karena sumber daya panas bumi yang dikelolanya bisa menghasilkan listrik secara terus-menerus, membuat proses elektrolisis untuk memproduksi hidrogen menjadi lebih efisien.
Dari sisi data center, pemerintah tengah gencar menarik investasi digital. Beberapa perusahaan teknologi global bahkan mulai mencari lokasi dengan pasokan energi hijau untuk memenuhi target netral karbon mereka.
Langkah Nyata yang Sudah Berjalan
PGE tidak hanya berhenti pada wacana. Perusahaan telah memulai kajian teknis dan kelayakan untuk kedua lini bisnis tersebut. Meski belum ada angka investasi yang dipublikasikan, arah strategi ini menunjukkan keseriusan PGE dalam bertransformasi menjadi perusahaan energi yang lebih luas.
Langkah ini juga sejalan dengan target pemerintah mencapai net zero emission pada 2060. Dengan memanfaatkan sumber daya panas bumi yang melimpah, PGE berpotensi menjadi pemain kunci dalam rantai pasok energi bersih di Indonesia, bukan sekadar produsen listrik.
Keputusan untuk diversifikasi ini datang di saat yang tepat. Harga energi fosil yang fluktuatif dan tekanan global terhadap pengurangan emisi membuat perusahaan energi dituntut beradaptasi cepat. PGE tampaknya tidak ingin tertinggal dalam perlombaan transisi energi ini.