SULAWESI TENGGARA — Perkuat lead: Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) bersama Dirut Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani meninjau langsung penyaluran di Desa Pisang, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, Jumat. Peninjauan dilakukan untuk memastikan bantuan sampai ke keluarga kelompok desil satu hingga empat.
Realisasi Penyaluran Baru 28,85 Persen
Data pemerintah mencatat realisasi penyaluran bantuan pangan di Lampung baru mencapai 28,85 persen dari total 1.242.582 PBP. Kabupaten Lampung Selatan sendiri memiliki 182.398 PBP dengan realisasi 19,37 persen.
Di Desa Pisang, bantuan disalurkan kepada 233 penerima. Masing-masing mendapat 30 kilogram beras untuk alokasi tiga bulan sekaligus: Juli, Agustus, dan September 2026. Pemerintah menargetkan seluruh bantuan diterima penerima secara tepat sasaran.
Zulhas: Jangan Hadapi Paceklik Sendirian
Zulhas menegaskan percepatan dilakukan agar bantuan segera diterima masyarakat yang membutuhkan.
"Pemerintah tidak ingin masyarakat menghadapi kemarau dan paceklik sendirian. Bantuan pangan harus segera sampai kepada masyarakat yang membutuhkan," kata Zulhas dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat.
Menurutnya, bantuan pangan menjadi instrumen menjaga ketahanan pangan rumah tangga sekaligus melindungi daya beli selama kemarau dan paceklik.
"Yang kita jaga bukan hanya ketersediaan beras, tetapi juga daya beli masyarakat. Karena itu, bantuan pangan dan stabilisasi pasokan harus berjalan bersama," ujarnya.
33,2 Juta Penerima di Seluruh Indonesia
Secara nasional, program bantuan pangan beras periode Juli–September 2026 menyasar sekitar 33,2 juta penerima manfaat. Setiap PBP menerima 10 kg per bulan, atau total 30 kg untuk tiga bulan.
Selain bantuan pangan, pemerintah menambah alokasi beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak satu juta ton. Tambahan ini untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga hingga Maret 2027, atau hingga memasuki masa panen.
Perum Bulog pada 8 September 2026 menyebut memiliki alokasi SPHP 828 ribu ton dengan realisasi penyaluran sekitar 92 persen.
Penutup: Percepatan penyaluran di Lampung menjadi ujian bagi koordinasi Kemenko Pangan, Bulog, dan pemerintah daerah. Jika realisasi Lampung yang baru 28,85 persen tak dikebut, risiko daya beli warga desil terbawah saat paceklik bisa memburuk.