SULAWESI TENGGARA — Tokyo — Gelombang panas ekstrem yang melanda Jepang pada 2025 memunculkan solusi baru di sektor industri. Do Hiemon Box, perangkat pendingin tubuh portabel, langsung menjadi primadona bagi perusahaan yang kesulitan menjaga keselamatan pekerja di lapangan.
Produk yang dijual dengan harga 1,5 juta yen atau sekitar Rp167 juta ini menyasar lokasi konstruksi, pabrik, dan gudang. Trusco Nakayama melihat potensi pasar yang lebih luas, termasuk lapangan golf dan stadion baseball.
Cara Kerja Do Hiemon Box Mendinginkan Pekerja
Pengguna cukup masuk ke dalam bilik dan membiarkan semburan udara dingin menurunkan suhu tubuh mereka. Perangkat ini dirancang untuk memulihkan kondisi fisik dalam hitungan menit setelah bekerja di bawah terik matahari.
Do Hiemon Box terhubung ke colokan listrik biasa dan dilengkapi roda agar mudah dipindahkan. Konsumsi dayanya rendah, dan unit akan mati otomatis setelah 20 menit untuk mencegah penggunaan berlebihan.
Isao Tabuchi, pekerja gudang di Konoe, mengaku alat ini menyelamatkannya dari sengatan panas saat bersepeda menuju tempat kerja. "Saya benar-benar bisa pulih berkat alat itu. Begitu menggunakannya, rasanya sangat, sangat dingin," katanya kepada AFP, Selasa (25/8).
Panas Ekstrem Jepang 2025 dan Dampaknya ke Operasional Bisnis
Jepang mencatat musim panas terpanas sepanjang sejarah pada 2025. Badan cuaca setempat bahkan memperkenalkan istilah baru "kokushobi" untuk menyebut hari dengan suhu mencapai 40 derajat Celsius, dan meminta masyarakat memperlakukan kondisi ini seperti bencana alam.
Data resmi menunjukkan hampir 120 kematian terkait panas di Tokyo dalam satu bulan hingga pertengahan Agustus. Secara nasional, hampir 63 ribu orang membutuhkan penanganan darurat selama musim panas tahun ini.
Survei Teikoku Databank pada Juli menemukan 50 persen perusahaan mengaku panas ekstrem mengganggu operasional mereka. Sebanyak 88 persen lainnya meningkatkan upaya perlindungan bagi pekerja.
Regulasi Baru dan Investasi Keselamatan Kerja
Sejak tahun lalu, perusahaan Jepang menghadapi kewajiban hukum lebih ketat untuk melindungi pekerja dari panas. Lokasi konstruksi wajib menyediakan jaket dengan kipas bawaan, ruang istirahat ber-AC, dan kanopi peneduh. Pemerintah Tokyo bahkan mengizinkan pegawai birokrasi datang ke kantor menggunakan celana pendek.
Yutaka Kono dari Konoe mengatakan investasi alat pendingin kini menjadi strategi untuk mempertahankan tenaga kerja sekaligus menarik pekerja baru. Perusahaannya sebelumnya mengandalkan pendingin udara dan spot cooler, tetapi area kerja yang terbuka membuat efektivitasnya terbatas.
"Saya benar-benar terkejut dengan konsep baru memasukkan orang ke semacam kulkas. Daya tarik utamanya adalah kemampuan alat itu mendinginkan tubuh pekerja dengan cepat," ujar Kono.
Pekerja lain, Taichi Konishi, menggunakan Do Hiemon Box sekitar tiga kali sehari. "Saya baru berada di dalam sekitar dua menit, tapi itu sudah cukup membuat semua keringat saya mengering," katanya.
Fenomena ini menjadi catatan bagi pasar Indonesia. Dengan intensitas panas ekstrem yang meningkat di berbagai wilayah, adopsi teknologi serupa di sektor konstruksi dan logistik nasional bisa menjadi langkah antisipasi untuk menjaga produktivitas pekerja lapangan.