Pencarian

218 Kali Digelar di Sulawesi Tenggara, Gerakan Pangan Murah Dipastikan Terus Masif Sampai ke Kepulauan

Senin, 24 Agustus 2026 • 18:34:31 WIB
218 Kali Digelar di Sulawesi Tenggara, Gerakan Pangan Murah Dipastikan Terus Masif Sampai ke Kepulauan
Gerakan Pangan Murah di Sulawesi Tenggara telah digelar sebanyak 218 kali dan akan terus diperluas hingga ke wilayah kepulauan.

KENDARI — Angka 218 kali itu bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada upaya menahan laju inflasi yang hingga Juli 2026 masih berada di angka 3,43 persen, dengan komponen makanan, minuman, dan tembakau sebagai penyumbang andil terbesar.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sultra, Aris Sismanto, menyebut operasi pasar skala besar ini akan terus diperluas, bukan hanya di pusat kota. "Bapak Gubernur terus akan memasifkan Gerakan Pangan Murah ini sehingga masyarakat kita yang ada di pelosok dan juga di kepulauan bisa menikmati harga yang sama dengan yang ada di Kota Kendari," ujarnya saat membuka kegiatan di Pelataran Dinas Ketahanan Pangan Sultra, Senin (24/8/2026).

Harga di Bawah Pasaran, Pasokan dari Distributor

Mekanisme GPM memangkas mata rantai distribusi yang selama ini membuat harga di tingkat konsumen melonjak. "Dengan Gerakan Pangan Murah ini mata rantai itu kita pangkas sehingga masyarakat kita bisa menikmati harga dari distributor," jelas Aris.

Pada pelaksanaan terbaru, sejumlah kebutuhan pokok dijual dengan harga di bawah rata-rata pasar. Beras premium 10 kilogram dibanderol Rp155.000, beras SPHP 5 kilogram Rp56.000, dan minyak goreng kemasan 1 liter Rp20.000. Komoditas lain seperti gula pasir dijual Rp17.500 per kilogram, telur ayam Rp48.000, bawang merah Rp30.000, dan bawang putih Rp40.000 per kilogram.

Geografi Kepulauan Jadi Tantangan Distribusi

Bentang alam Sultra yang terdiri dari banyak pulau membuat ongkos kirim barang menjadi tinggi. Hal ini kerap menjadi pemicu disparitas harga yang tajam antara wilayah pesisir dan kepulauan terluar.

Oleh karena itu, GPM tidak hanya berhenti di ibukota provinsi. Dinas Ketahanan Pangan memastikan jadwal operasi pasar akan menyasar kabupaten/kota yang selama ini mencatat harga pangan tertinggi, terutama di wilayah pulau-pulau kecil yang akses logistiknya terbatas.

Gerakan Makan Sagu dan Jagung untuk Kurangi Ketergantungan Beras

Selain menstabilkan harga, pemerintah daerah juga mendorong diversifikasi pangan. Langkah ini dinilai penting agar konsumsi masyarakat tidak bertumpu pada satu komoditas saja, terutama beras.

Sejumlah inisiatif lokal telah berjalan, seperti gerakan makan sagu di Kabupaten Kolaka dan Gerakan Muna Makan Jagung di Kabupaten Muna. Aris berharap pola konsumsi berbasis potensi lokal ini bisa ditiru daerah lain untuk memperkuat ketahanan pangan dan menyerap produksi petani setempat.

"Tujuan Gerakan Pangan Murah ini untuk menstabilkan harga, untuk keterjangkauan harga, dan tentunya untuk memperkuat ketersediaan pasokan pangan kita," kata Aris menegaskan.

Pemprov Sultra memastikan operasi pasar ini akan terus berlanjut sebagai bagian dari strategi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam menjaga daya beli masyarakat hingga akhir tahun.

Follow kabarbaubau.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sultratop.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks