Pencarian

1.644 Titik Panas Terdeteksi di Sultra, Kabut Asap Selimuti Kendari dan Ganggu Penerbangan

Senin, 19 Oktober 2026 • 09:16:31 WIB
1.644 Titik Panas Terdeteksi di Sultra, Kabut Asap Selimuti Kendari dan Ganggu Penerbangan
Petugas BMKG memantau citra satelit untuk mendeteksi titik panas dan sebaran kabut asap di Sulawesi Tenggara.

KENDARI — Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Kendari, Heri Purnomo, menyampaikan temuan ribuan titik panas tersebut pada 15 Oktober 2026. Angka itu muncul bersamaan dengan pergerakan asap regional yang masuk ke wilayah provinsi.

Kabupaten Buton mencatat 267 titik panas, disusul Bombana dengan 202 titik. Titik panas merupakan indikasi anomali suhu yang terdeteksi satelit dan dapat berkaitan dengan kebakaran, meski verifikasi lapangan tetap diperlukan sebelum menyimpulkan adanya karhutla aktif.

Asap Kiriman dari Timur dan Sumber Lokal yang Tak Bisa Diabaikan

Heri menjelaskan angin dominan dari arah tenggara hingga selatan membawa asap dari Papua Selatan dan Maluku menuju Sulawesi Tenggara. Pengamatan citra satelit Himawari-9 pada 12 Oktober 2026 menunjukkan kabut asap terpantau sejak dini hari hingga pagi.

"Saat arah angin bertiup dari timur ke barat, angin akan membawa distribusi asap itu sendiri walaupun kepekatannya berbeda-beda," kata Heri.

Namun, temuan titik panas di dalam wilayah Sultra membuat persoalan tidak bisa semata-mata dijelaskan sebagai dampak karhutla luar daerah. Dua faktor — asap kiriman dan potensi sumber lokal — sama-sama berkontribusi, meski besaran masing-masing belum bisa dipastikan dari data yang tersedia.

Jarak Pandang di Pomalaa dan Baubau Turun di Bawah Dua Kilometer

Dampak kabut asap tidak berhenti pada perubahan warna langit. Jarak pandang di sejumlah wilayah, termasuk Pomalaa dan Baubau, sempat turun hingga kurang dari dua kilometer dan mengganggu jadwal penerbangan di beberapa bandara.

Penurunan jarak pandang menjadi persoalan keselamatan bagi pengguna jalan, operator transportasi laut, dan penerbangan. Pada periode pengamatan 12 Oktober, jarak pandang horizontal di sejumlah wilayah dilaporkan turun hingga kurang dari lima kilometer.

BMKG memperingatkan asap dapat semakin pekat apabila karhutla masih berlangsung di daerah sumber maupun wilayah yang dilalui sebaran asap. Hujan disebut dapat membantu mengurangi konsentrasi partikel, tetapi efektivitasnya bergantung pada intensitas hujan dan keberadaan sumber kebakaran.

Peringatan Dini: Kendari Terdampak 16 Oktober, Meluas Sehari Kemudian

Dalam peringatan yang diterbitkan pertengahan Oktober, BMKG memprakirakan kabut asap kategori sedang hingga tinggi berpotensi menyelimuti sebagian besar wilayah Sultra secara bertahap pada 15–17 Oktober.

Kota Kendari termasuk wilayah yang diperkirakan terdampak pada 16 Oktober, sebelum potensi sebaran meluas ke hampir seluruh wilayah provinsi pada 17 Oktober. Prakiraan itu mencakup potensi perluasan ke seluruh 17 kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara.

Pada Minggu, 18 Oktober 2026, asap tipis masih terlihat menyelimuti langit Kota Kendari. Cuaca terpantau cerah, tetapi lapisan putih keabu-abuan menutupi sebagian langit.

Yang Perlu Diwaspadai Warga Selama Asap Masih Terbawa Angin

Kombinasi asap lintas wilayah dan titik panas lokal membuat upaya mengurangi paparan masyarakat menghadapi tantangan lebih kompleks. Selama sumber emisi masih aktif dan kondisi atmosfer mendukung pergerakan asap, paparan dapat berlanjut.

Warga di wilayah yang terdampak disarankan memantau pembaruan prakiraan BMKG, terutama menjelang perjalanan udara dan aktivitas luar ruang. Operator transportasi diminta memperhatikan batas jarak pandang minimum sebelum mengizinkan keberangkatan.

Follow kabarbaubau.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: mediasultra.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks